Di Jaman sekarang yang sudah serba digital, hampir semua produsen kamera sudah tidak memproduksi kembali lensa manual. Di era fotografi digital modern kita bisa mendapatkan DSLR dengan berbagai macam fitur canggihnya seperti WIFI, GPS, sampai pixel yang sangat tinggi, termasuk fitur dari lensa itu sendiri.
Tidak dapat di pungkiri bahwa lensa modern yang sudah serba otomatis memudahkan kita dalam fotografi, semua focus bisa dilakukan secara otomatis. Tapi bagaimana nasib lensa manual kini?
Awalnya lensa manual hanya digunakan pada DSLR berteknologi analog saja namun sekarang lensa manual jadul banyak dicari, selain harganya yang terjangkau lensa manual juga mempunyai hasil yang tak kalah bagusnya dari lensa modern.
Hal yang saya rasakan saat mengambil foto menggunakan lensa manual adalah kepuasaan dan rasa tersendiri dibandingkan menggunakan lensa modern yang tinggal mengarahkan focus sudah bisa mendapatkan hasil foto yang bagus. Dulu di tahun 2009 saya selalu main ke pasar cihapit dan ABC bandung masih banyak penjual barang bekas menjual lensa manual jadul dengan harga yang masih murah, namun sekarang harga lensa manual naik drastis 200% dan itupun agak susah mendapatkan kualitas lensa yang masih bagus.
Di tahun 2008 lensa manual pertama saya adalah pentax 55mm f4 itupun di dapat dari gudang teman saya, dan katanya lensa itu bekas ayahnya dengan keadaan lensa penuh jamur.
Yang menjadi menarik dari lensa manual adalah banyaknya produk lensa yang ada seperti Canon (versiFD), Nikon, Fujinon, Tokina, Tamron, Takumar, KMZ Industar, Helios Jupiter, Tair, dan lain-lain sedangkan dari Jerman ada Carl Zeiss, Meyer-Optik, Leica, Schneider Kreuznach dan lain-lain.
Bagaimana dengan anda, apakah berminat mengkoleksi lensa manual?
Salam Manual lens.
